Berawal dari Dapur Pergerakan
Semua bermula pada tanggal 21-25 September 2022. Saat itu, rumah saya di kawasan pegunungan yang asri terpilih menjadi saksi sejarah: tempat pelaksanaan Mapaba PMII Rayon Wisma Tradisi (WISTRAD), Fakultas Tarbiyah, Komisariat Pondok Sahabat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Posisi saya saat itu bukanlah peserta, melainkan tuan rumah yang membantu panitia. Saya sibuk di dapur, membantu memasak dan menyiapkan segala keperluan logistik. Namun, di sela-sela kesibukan itu, telinga saya tak lepas mendengarkan penyampaian materi dari para pemateri.
Materi tentang Ke-PMII-an, Kepemimpinan, hingga Ke-Aswaja-an mengalir masuk ke pikiran saya. Dalam hati saya bergumam, “Bagus sekali materi ini, selaras dengan apa yang saya dapatkan saat mengikuti PKPNU dulu.” Benih ketertarikan terhadap PMII pun mulai tumbuh di sana.
Riyadhah di Keheningan Malam
Seminggu setelah keriuhan Mapaba usai, rasa penasaran itu tidak luntur. Saya mencoba mengunduh lagu Mars PMII dan sering memutarnya. Puncaknya terjadi pada suatu malam, sekitar pukul 01.00 dini hari. Di rumah saya yang sunyi di atas gunung, saya merasa perlu melakukan sesuatu yang berbeda untuk memahami organisasi ini.
Saya mengambil air wudhu, mengenakan sarung, baju koko, dan peci nasional. Saya duduk bersimpuh, lalu memanjatkan doa:
“Ya Allah, bukalah mata hati saya untuk bisa meresapi, menghayati, dan menikmati Mars PMII ini.”
Air Mata Ghiroh
Dalam kesendirian dan keheningan itu, saya putar rekaman Mars PMII berkali-kali. Alunan musik dan liriknya perlahan merasuk ke sukma. Ada rasa nikmat yang luar biasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Tanpa terasa, air mata saya luruh. Di saat itulah, muncul sebuah tekad dan semangat (ghiroh) yang membuncah: Saya harus bergabung dengan PMII.
Bagi saya, PMII bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan panggilan jiwa yang ditemukan melalui jalur spiritual di keheningan malam pegunungan.